Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, memancing mungkin identik dengan penggunaan joran, umpan, dan mata kail. Namun, di beberapa wilayah di Papua, terdapat tradisi unik dalam mencari ikan, yaitu memancing dengan tombak dan kacamata. Kebiasaan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir dan sungai di berbagai daerah di Papua selama bergenerasi-generasi.
Tradisi memancing dengan tombak ini bukan sekadar cara untuk mendapatkan ikan, tetapi juga merupakan bagian dari kearifan lokal dan adaptasi masyarakat Papua terhadap lingkungan alam mereka. Tombak yang digunakan biasanya terbuat dari kayu atau bambu yang ujungnya diruncingkan atau dipasangi mata tombak dari besi atau tulang. Panjang tombak bervariasi, disesuaikan dengan kedalaman air dan jenis ikan yang diincar.
Salah satu hal menarik dalam tradisi memancing dengan tombak di Papua adalah penggunaan kacamata khusus. Kacamata ini biasanya terbuat dari kayu ringan atau bahan alami lainnya dengan lensa dari kaca atau plastik bening. Fungsi utama kacamata ini adalah untuk mengurangi silau permukaan air sehingga pemancing dapat melihat dengan jelas keberadaan ikan di dalam air. Dengan penglihatan yang lebih baik, akurasi dalam melempar tombak pun meningkat.
Teknik memancing dengan tombak membutuhkan keahlian dan ketelitian. Pemancing harus memiliki kemampuan untuk membaca pergerakan air, mengidentifikasi keberadaan ikan, dan melempar tombak dengan tepat sasaran. Biasanya, pemancing akan berjalan perlahan di tepi sungai atau pantai dangkal, mengamati dengan seksama setiap pergerakan di dalam air melalui kacamata mereka. Ketika seekor ikan terlihat, dengan gerakan cepat dan tepat, tombak akan dilemparkan untuk menangkap buruan.
Tradisi memancing dengan tombak dan kacamata ini masih banyak dijumpai di berbagai daerah di Papua, seperti di pesisir utara, selatan, hingga wilayah pedalaman yang memiliki sungai dan danau. Meskipun perkembangan zaman dan modernisasi telah membawa alat pancing yang lebih praktis, namun tradisi unik ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya dan cara hidup masyarakat Papua yang selaras dengan alam. Kegiatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi ajang sosialisasi dan pewarisan pengetahuan antar generasi.