Tim peneliti glasiologi melakukan pengukuran berkala mengenai ketebalan lapisan es abadi yang tersisa di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua. Menggunakan teknologi radar penetrasi tanah (GPR) dan pengukuran sampel inti es (ice core), ilmuwan mendokumentasikan laju penyusutan massa es yang berlangsung sangat cepat akibat pemanasan global. Data pengukuran lapangan menunjukkan bahwa ketebalan es di puncak tropis satu-satunya di Indonesia ini telah berkurang puluhan meter dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir. Hasil analisis ini menjadi indikator paling nyata atas ancaman perubahan iklim bagi ekosistem alam.
Penyusutan luas lapisan es di Puncak Jaya dipicu oleh kenaikan suhu udara rata-rata atmosfer serta perubahan pola curah hujan yang bergeser menjadi hujan air cair di ketinggian tinggi. Air hujan basah yang mengguyur permukaan gletser mempercepat proses pelelehan kisi-kisi es (ablation) dan mencegah terbentuknya akumulasi salju baru di atas puncak gunung. Kerusakan tutupan es ini tidak hanya berdampak pada hilangnya arsip data iklim purba yang tersimpan di dalam kristal es masa lalu, tetapi juga merubah lanskap kebudayaan masyarakat adat sekitarnya. Pemantauan via satelit resolusi tinggi terus dilakukan secara kontinu.
Dokumentasi mengenai perubahan lapisan es ini disajikan oleh lembaga riset iklim nasional sebagai bukti konkret untuk mendesak komitmen aksi pengurangan emisi karbon di tingkat global. Para ilmuwan memprediksi bahwa tutupan gletser abadi Papua ini berisiko mengalami kepunahan total dalam durasi waktu beberapa tahun mendatang jika kenaikan suhu bumi tidak diredam secara ekstrem. Kehilangan gletser tropis ini menjadi peringatan keras bagi peradaban manusia akan bahaya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi industri tak terkendali. Kampanye penyelamatan iklim terus disuarakan oleh para aktivis lingkungan di berbagai forum dunia.
Selain pengamatan fisik es, tim ahli melakukan studi mengenai mikroorganisme purba (extremophiles) yang terperangkap di dalam sampel inti es yang berhasil diekstraksi dari kedalaman gletser. Mikroba kuno yang membeku selama ribuan tahun ini dipelajari sifat genetiknya untuk memahami evolusi kehidupan biologi di bawah suhu dingin ekstrem kawasan ketinggian tinggi. Informasi biokimia ini menambah nilai ilmiah dari keberadaan gletser Puncak Jaya sebelum seluruh tutupan es tersebut melelh sepenuhnya menjadi air. Penyelamatan sampel es ke fasilitas laboratorium pendingin khusus terus diupayakan secara maksimal.
Laporan berkala mengenai kondisi gletser Papua ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik masyarakat Indonesia akan urgensi menjaga lingkungan hidup secara bijaksana. Pola hidup hemat energi dan pengurangan jejak karbon pribadi harus diimplementasikan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun gletser abadi berada di lokasi pedalaman yang sangat jauh, dampak pencairannya merefleksikan masalah lingkungan global yang mempengaruhi seluruh penghuni planet bumi. Mari kita jadikan peringatan cairnya es Puncak Jaya sebagai momentum untuk bergerak bersama merawat masa depan bumi kita.