Memastikan tumbuh kembang anak berjalan dengan optimal tanpa adanya gangguan masalah gizi buruk merupakan impian dan tugas utama dari setiap ibu di Indonesia. Namun, kendala akses terhadap bahan makanan pokok yang mahal dan kurangnya pemahaman tentang pemenuhan nutrisi seimbang sering kali menjadi kendala utama di daerah terpencil. Gerakan nasional untuk menyosialisasikan pentingnya program Cegah Stunting Papua kini gencar dilakukan dengan cara memanfaatkan potensi bahan pangan lokal yang melimpah di sekitar pekarangan rumah masyarakat. Alam pulau surga di timur Indonesia ini sejatinya telah menyediakan banyak sekali tanaman obat dan buah-buahan kaya vitamin yang bisa diolah menjadi ramuan herbal penambah nafsu makan anak.
Salah satu resep tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh para tetua adat di sana adalah penggunaan sari buah merah yang diekstrak secara higienis tanpa campuran bahan kimia. Buah khas ini dikenal memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi serta asam lemak esensial yang bagus untuk merangsang perkembangan sel otak dan pertumbuhan tulang balita. Memberikan sendok madu hutan murni yang dicampur dengan perasan air tanaman obat lokal dalam skema Cegah Stunting Papua terbukti ampuh menjaga daya tahan tubuh anak dari serangan penyakit infeksi saluran pernapasan dan malaria. Tubuh yang sehat akan membuat proses penyerapan sari makanan ke dalam tubuh berjalan dengan sangat sempurna.
Selain pemberian ramuan herbal penunjang kesehatan, pola menu makan harian anak juga wajib diperhatikan dengan cara menyajikan sumber protein hewani secara rutin dari hasil alam sekitar. Para orang tua bisa memanfaatkan hasil tangkapan ikan sungai segar, kerang, atau telur ayam kampung sebagai lauk pendamping bubur sagu atau keladi jalar yang padat kalori. Mensinergikan konsumsi pangan bergizi tinggi dengan kampanye Cegah Stunting Papua akan membebaskan generasi muda dari risiko keterlambatan pertumbuhan fisik dan kecerdasan otak. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan sumber air minum di lingkungan tempat tinggal juga harus terus dijalankan secara berkesinambungan.
Peran aktif dari para kader posyandu di tingkat desa sangat diperlukan untuk memantau perkembangan berat badan dan tinggi badan anak-anak setiap bulannya secara berkala. Jika ditemukan ada balita yang berat badannya tidak naik dalam dua kali penimbangan, tindakan intervensi gizi berupa pemberian makanan tambahan harus segera dilakukan tanpa menunda waktu. Kerja sama yang kompak antar warga desa dalam menyukseskan program Cegah Stunting Papua akan menjadi penentu masa depan kemajuan daerah tersebut dalam beberapa dekade ke depan. Anak-anak yang bebas dari stunting akan tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, cerdas, dan siap membangun tanah kelahiran mereka.