Mata Silinder Bukan Cuma Turunan, Ini Penyebab Lain yang Perlu Anda Tahu

Banyak orang mengira mata silinder hanya disebabkan oleh faktor keturunan. Namun, meskipun genetik memang berperan besar, ada beberapa penyebab lain yang juga bisa memicu atau memperburuk kondisi ini. Memahami faktor-faktor ini penting agar kita bisa lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mata.

Salah satu penyebab lain yang signifikan adalah cedera pada mata. Trauma atau luka pada kornea bisa mengubah bentuknya, menyebabkan mata silinder atau astigmatisme. Cedera akibat kecelakaan atau bahkan goresan kecil yang tidak sengaja dapat memengaruhi kelengkungan permukaan mata secara permanen.

Penyebab lainnya adalah operasi mata, terutama operasi katarak atau transplantasi kornea. Meskipun tujuannya adalah untuk meningkatkan penglihatan, prosedur bedah ini terkadang dapat mengubah bentuk kornea, yang berujung pada timbulnya mata silinder pasca operasi.

Kondisi mata seperti keratoconus juga bisa menjadi penyebab. Keratoconus adalah penyakit langka di mana kornea menipis dan secara bertahap menonjol keluar menjadi bentuk kerucut. Perubahan bentuk ini menyebabkan astigmatisme yang parah dan terus memburuk seiring waktu.

Sering menggosok mata secara berlebihan juga dapat memengaruhi. Meskipun efeknya tidak instan, kebiasaan ini dapat menekan kornea dan secara perlahan mengubah bentuknya. Ini adalah kebiasaan yang sering kita lakukan tanpa sadar, dan bisa menjadi salah satu faktor risiko.

Penting untuk diingat bahwa mata silinder tidak disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti membaca di tempat gelap atau terlalu sering menggunakan komputer. Meskipun kebiasaan ini bisa menyebabkan mata lelah dan sakit kepala, mereka tidak mengubah bentuk kornea secara fisik.

Gejala dari mata silinder bisa berupa pandangan kabur atau berbayang, kesulitan melihat di malam hari, dan sakit kepala. Jika Anda mengalami gejala ini dan tidak memiliki riwayat keturunan, jangan anggap remeh.

Kondisi ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan mata rutin. Dokter mata dapat mengukur kelengkungan kornea dan lensa Anda untuk menentukan tingkat astigmatisme. Dengan diagnosis yang tepat, penglihatan Anda dapat dikoreksi dengan kacamata, lensa kontak, atau prosedur laser.