Di pedalaman Lembah Baliem, Papua, terdapat sebuah tradisi pemakaman yang sangat tidak biasa dan mampu menarik perhatian dunia arkeologi internasional. Desa Jiwika merupakan salah satu tempat di mana masyarakat Suku Dani masih menjaga dengan baik sosok Mumi Desa Jiwika, sebuah jenazah leluhur yang dikuburkan melalui proses pengasapan tradisional. Keberadaan mumi ini bertujuan untuk menimbulkan kengerian, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap tokoh-tokoh besar atau kepala suku yang dianggap berjasa seumur hidup. Tradisi ini menjadi bukti nyata betapa rumitnya sistem kepercayaan dan pengetahuan anatomi tradisional yang dimiliki oleh masyarakat asli Papua sejak ribuan tahun silam.
Proses pengawetan Mumi Desa Jiwika dilakukan dengan cara yang sangat spesifik dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jenazah tidak dikuburkan, melainkan diletakkan di atas panggung di dalam honai (rumah adat) khusus untuk kemudian dilakukan proses pengasapan secara perlahan. Lemak tubuh jenazah dibuang secara alami melalui pemanasan suhu rendah dari api yang dijaga agar tidak membakar jasad tersebut. Seluruh permukaan kulit kemudian diolesi dengan lemak babi dan ramuan alami untuk menjaga elastisitas serta melindunginya dari pemanasan.
Salah satu fakta menarik mengenai Mumi Desa Jiwika adalah statusnya yang masih dianggap “hidup” secara spiritual oleh masyarakat desa. Mumi tersebut tidak disimpan di museum tertutup, melainkan tetap diletakkan di dalam honai milik keluarga keturunannya. Pada waktu-waktu tertentu, mumi ini akan dikeluarkan untuk ritual adat, seperti upacara bakar batu atau saat ada tamu agung yang berkunjung. Usia mumi ini diperkirakan sudah mencapai lebih dari 250 hingga 300 tahun, namun struktur tulang dan kulitnya masih terlihat sangat jelas.
Kunjungi wisatawan untuk melihat Mumi Desa Jiwika telah menjadi salah satu pilar ekonomi bagi masyarakat lokal di Lembah Baliem. Namun, pengelola desa sangat menjaga agar interaksi wisatawan tetap dilakukan dengan penuh rasa hormat dan tidak melanggar aturan sakral yang berlaku. Setiap pengunjung biasanya diminta untuk memberikan kontribusi atau donasi yang digunakan untuk perawatan mumi dan operasional desa. Melalui pariwisata, generasi muda Suku Dani diajak untuk tetap bangga dan terus mempelajari sejarah leluhur mereka, sehingga tradisi unik ini tidak hilang digerus oleh arus modernisasi yang mulai masuk ke wilayah pegunungan tengah Papua.